Malam takbiran kemarin, aku iseng ke Gramedia. Walau sebenarnya, selalu saja ada alasan untuk pergi ke toko buku. Kata iseng mungkin cuma kiasan saja~

Nggak ada daftar buku yang harus dibeli, sih. Aku cuma kangen melihat rak-rak buku dan menikmati suasana tenang di tengah riuhnya lebaran. Tapi baru mau naik lift, langkahku berhenti. Ada satu pengumuman yang menarik perhatian.

Book Tour Rumah karya J.S. Khairen tanggal 23 Maret 2026

Waktunya memang kurang pas, bertepatan dengan lebaran yang penuh acara silaturahmi keluarga. Tapi rasanya sayang kalau aku lewatkan. Akhirnya aku daftar!

Tapi rencana memang tidak selalu berjalan mulus. Tepat di hari H, tiba-tiba ada acara keluarga yang mengharuskan aku ke luar kota. Mau tidak mau, aku jadi tidak bisa datang ke book tour. Kecewa, tapi mau bagaimana lagi.

Aku sudah bertekad. Buku Rumah yang sudah aku bawa pulang ke rumah ini akan aku tamatkan sebelum bulan berganti. Awalnya aku beli buku ini karena ada acara book tour. Tapi isi buku ini ternyata benar-benar seru!

Aku membaca buku ini di sela-sela momen lebaran, di antara obrolan keluarga, dan di tengah waktu kerja yang masih santai. Sebelas hari berlalu dan akhirnya aku sampai di halaman terakhir.

Awalnya aku kira ceritanya akan sederhana. Aku bahkan sempat menebak alurnya. Perkiraanku sih tentang seseorang yang merasa rumahnya tidak nyaman karena dipenuhi luka, lalu di akhir entah ia kehilangan segalanya atau justru menemukan rumah yang baru. Sama seperti tulisan pada halaman awal buku.




Buku pertama karya J.S. Khairen yang aku baca ini disusun dari beberapa episode dengan alur campuran. Aku diajak masuk ke kehidupan Ria, karakter utama dalam cerita ini, lewat kisah yang tidak selalu menuju ruang aman atau perasaan nyaman.

Ada bagian yang membuatku mengangguk pelan tanda setuju. Pun, ada bagian yang membuatku tidak sependapat dengan keputusan Ria. Dasar aku suka blak-blakan, jadi saat Ria membuat keputusan yang bikin gregetan. Aku jadi seolah sedang mengomelinya secara langsung. Padahal Ria tidak akan bisa mendengarnya :))

Yang paling aku suka dari Ria justru pekerjaannya. Niche banget dan jujuuuuur…. keren! Banyak nama tempat yang disebutkan di novel ini dan terdengar asing bagiku. Bahkan di beberapa bagian, aku sempat berhenti membaca hanya untuk mencari tahu lebih jauh tentang nama tempat tersebut. Sambil bergumam: beneran ada loh ternyata.

Tapi di tengah semua kehidupan Ria yang terlihat wah itu, ada satu hal yang justru terasa kosong. Rumah. Sesuai judulnya. Ada banyak konflik yang muncul dari sana. Hidup memang tidak sesederhana itu, kan?

Yang menarik, di sela-sela cerita tentang Ria dan rumah, ada bagian-bagian yang terasa seperti sentilan kecil dari penulis tentang sudut pandang yang lebih luas. Tentang realita hukum, cara manusia memaknai agama dalam kehidupannya, dan banyak lagi. Aku nggak mau banyak spoiler, dong!








Tulisan J.S. Khairen terasa begitu dekat dengan realita yang sering didengar. Penulis tidak berusaha menjelaskan semuanya secara gamblang, tidak juga menggiring pembaca pada satu kesimpulan yang pasti. Penulis hanya melemparkan potongan-potongan kecil, lalu membiarkan pembaca memaknainya sendiri.

Ketika aku selesai membaca buku ini, aku teringat lagi akan hari ketika aku gagal ikut book tour. Awalnya sedih, karena seharusnya aku bisa duduk di sana dan mendengar langsung cerita dari penulisnya. Tapi mungkin memang ada hikmah di balik itu.

Dari pengalamanku yang baru dua kali ikut bedah buku non-fiksi dan puisi, aku sadar kalau selama acara dulu aku lebih banyak bengong. Karena aku datang sebagai pendengar, bukan sebagai pembaca yang sudah benar-benar selesai dengan bukunya.

Namun untuk Rumah, aku membacanya sampai tamat. Aku meluangkan waktu untuk benar-benar menyelami ceritanya, mengikuti alur yang tidak selalu lurus, dan memahami setiap lapisan emosi yang ditawarkan. Mungkin memang ada hal yang harus aku pahami dulu sendirian. Bukan dari cerita yang disampaikan langsung oleh penulis. Ternyata pengalaman itu terasa jauh lebih dalam dan personal.




Senang sekali rasanya bisa menemani perjalanan Ria! Kalau kamu sedang berada di fase merasa jauh dari rumah, seperti yang diceritakan penulis tentang betapa jauhnya jarak rumah dari Ria. Mungkin kamu juga bisa menemukan rumah lewat Rumah. Siapa tahu, di antara halaman-halamannya, kamu menemukan sesuatu yang selama ini kamu cari dan perlahan bisa mendekatkanmu kembali dengan rumah.