Ada sebuah realita yang cukup pahit dalam dunia literatur kita: puisi sering kali menjadi buku yang paling sepi di rak toko buku. Jarang mendapat tempat istimewa. Namun, di sudut Makarya, puisi menemukan keriuhannya. Lebih dari itu, deretan buku puisi di sini adalah teman yang disambut dengan pelukan hangat.

Sore itu, aku mengikuti acara bedah buku karya Rabu Pagisyahbana (Mas Rabu) yang berjudul Mencintai Toko Buku. Ruangan itu terasa semakin hidup dengan kehadiran Najwa Shihab (Mbak Nana), Natasha Rizky (Kak Aca), dan Tomi Wibisono (Mas Tomi) sebagai teman bicara.

Salah satu momen yang benar-benar membuatku terpaku adalah ketika Mbak Nana membaca "Anak Lanang" dan "Kembang Napas" karya Mas Rabu. Setelah Mbak Nana selesai membaca, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sebuah jeda yang sarat makna, sebab berhasil membaca dengan segenap jiwanya.

Aku juga sempat tertegun mendengar cerita Kak Aca. Ia belajar merangkai sajak langsung dari Mas Rabu. Sebuah pengalaman yang pasti membuat siapa saja di ruangan itu merasa iri. Seperti Mbak Nana dan Mas Rabu, Kak Aca juga terbiasa dekat dengan buku sejak kecil. Benang merah itulah yang mempertemukan mereka pada satu titik: mencintai toko buku.

Menariknya, dengan sorot mata malu-malu yang berselimut rasa bangga, Kak Aca menceritakan bahwa pencapaian tertingginya selama berkarya adalah pengakuan dari anak-anaknya yang selalu menyebut ibu mereka adalah penulis. Sebuah pengingat bahwa sejatinya kekuatan kata-kata adalah ketika ia mampu merangkul orang-orang terdekatnya.

"Menulis sendiri itu sepi. Makanya pada saat saya menulis puisi tapi tidak bisa berumah tinggal di benak pembacanya, saya seperti diasingkan. Tapi pada saat ada orang yang mengepos karya saya, saya merasa diingatkan. Iya, ya, saya harus menulis lagi." -Mas Rabu

Kalimat itu seketika membuat pandanganku mengabur. Aku coba memfokuskan diri kembali, hingga tanpa sadar mataku tertuju pada desain tulisan yang menjuntai dari langit-langit ruang Makarya. Sambil memegang buku Mas Rabu, aku tersadar bahwa tulisan yang ada di sana adalah kutipannya. Seolah ia ingin menghadirkan "bahasa pikiran" ke dalam ruang publik agar terasa hidup.

Bicara soal bahasa pikiran, puisi favoritku dalam buku Mencintai Toko Buku berjudul "Buku Pakaian Pikiran." Salah satu baris yang aku sukai:

tambah hari zaman makin canggih
tiap orang bebas dandan di muka kamera
bebas berkata tanpa perlu buku-pakaian.

Aku jatuh cinta pada kesederhanaan diksinya. Mas Rabu menggunakan kata sehari-hari namun dengan pesan yang kritis. Di era saat semua orang sibuk berdandan secara visual di depan kamera, kita sering lupa untuk mendandani pikiran kita dengan bacaan. Puisi ini menjadi pengingat bahwa kata-kata adalah pakaian yang seharusnya melindungi akal budi.

Saat sesi tanda tangan bersama penulis, Mas Rabu menuliskan pesan pendek, "Selamat mencintai dewa puisi." Membaca pesan itu, aku jadi teringat kutipan ia yang lain, "Hati kita bertemu di jalan puisi, jalan singkat yang teramat panjang."



Ternyata bertemu dewa puisi adalah perjalanan yang tak kalah panjangnya dengan perjalanan lainnya. Mungkin aku harus menembus langit ketujuh, atau mungkin aku akan terpental duluan karena tersambar petir. Namun, sejatinya perjuangan memang tidak pernah mudah.

Sore itu, aku tidak ingin pulang sekadar membawa buku baru. Aku harus menulis sesuatu. Anggap saja ini caraku berterima kasih kepada Mas Rabu, Mbak Nana, dan Kak Aca yang telah menyalakan kembali semangat di setiap sudut ruang Makarya. Seperti mereka, aku pun ingin terus menikmati perjalananku dengan mencintai toko buku dan puisi.




    Rabu di Toko Buku

    rabu hanya pelengkap hariku
    kulalui lalu berlalu
    jeda yang tak pernah kutunggu.

    hari ini ia mengetuk dadaku
    menemukan jalan temu
    di antara rak bisu.

    ada rabu dan sisa jemu mengadu
    kulebur lalu luruh ke dasar buku
    tersapu rindu aksara menyatu.

    terpujilah rabu
    buku-pakaian kini telah membalut pikiranku
    selamat mencintai dewa puisi, aku.




P.S. Lagi kepingin nulis pakai aku dan ia.